Penjajah digital, dominasi situs asing di Indonesia
Tidak ada habis-habisnya kalau sudah bahas urusan negara blush Apalagi urusan jajah-menjajah yang sudah dari puluhan tahun lalu kita juga merasakan sengsaranya dijajah. Syukurlah hari ini kita bisa merasakan kemerdekaan, huoofftt.. leganya..
Yaps yang lalu sudah berlalu, sekarang saatnya membangun kemerdekaan ini dengan segala daya dan upaya. Memang benar kita sudah lama sekali terbebas dari belenggu penjajahan, itu sudah jelas-jelas penjajahan yang terang-terangan ngebom sana sini. Lah sekarang apakah masih penjajahan juga tah? ya iyalahh masih, cuma kagak keliatan yang mana penjajahnya karena sudah dibungkus dengan berbagai harum manisnya alasan.
Apakah kita perlu juga membuat layanan serupa? hmm.. sudah banyak yang mencoba, tapi sudah duluan tumbang karena tidak ada peminat dan daya tarik. Kenapa harus membuat layanan yang tujuannya sama kalau tidak ada pembeda? mau bunuh diri ya..
Ingatkah agresi militer yang dilancarkan penjajah ketika mengetahui kita sudah memproklamasikan kemerdekaan? sudah berapa kalai agresi dari luar dan berapa kali pemberontakan? Lalu.. bagaimana kita bisa menyelesainnya? karena kita semua bersatu pada ,menjadi satu, dulu ada jong java jong sumatera, dang jong-jong lainnya, ada kerajaan sunda kelapa, yogyakarta, dll, dari situ kita bisa bangkit melawan karena kebersamaan yang dibentuk. Begitu halnya dengan penjajah digital, mereka bisa diusir dengan cara serupa ketika pemerintah dan rakyat bertekad sama untuk "berdikari" dalam layanan digitalnya sendiri.
Oke kita pengen berdikari. Masalahnya apa kita mampu? ini pertanyaan besar yang harus dijawab secara kompleks. Setelah puluhan tahun kita merdeka dan menjalani hidup, banyak yang terjadi, serta banyak pula yang tersandera. Ingat kasus duit IMF yang kita terima dengan syarat matiin PT DI yang buat pesawat terbang?
Itu satu contoh bung, macet sampe berapa puluh tahun itu PT DI. Pesawat canggih dimasanya itu, bayangkan kita bisa buat itu pesawat, wuhh.. Okelah itu sudah terlanjur terjadi, gak usah terus-terusan dipikirin, buat pengalaman aja. Nah itu gambarannya, kalau mau berdikari harus siap semuanya. Ya semuanya. Terutama ketahanan ekonomi kita, dan semua harus dilakukan secara bertahap, atau akan sebaliknya, niat mau berdikari, jadi hancurr berkeping-keping.
Kembali ke penjajah digital, arusnya bahkan lebih deras daripada arus masuk barang import ke Indonesia. Ingat dunia maya bebas tanpa batas bung, bisa masuk keluar kapan aja, bisa kemana-mana dalam sekejap, tapi tentu ada batasnya, kalau mau bisa jadi pemerintah kita melalui kominfo memblokir situs-situs besar seperti langkah cina dan iran, tapi apa ini efektif? atau malah kita yang nanti kena damprat sama om Sam dari negara USA, karena rata-rata merekalah pemilik situs besar itu. Rumit kan? nganu ini kena ini, kayak main catur deh.
Gak bisa main keras dan keliatan sekrang, kalau mereka dibungkus, kita juga harus main bungkus-bungkusan. Kalau mau melawan dominasi situs asing, kita juga harus lawan dengan buatan dalam negeri, harus menumbuhkan kreatifitas anak bangsa, pemerintah aharus lebih perhatian kepada dunia maya dan industri kreatif. Tanpa kerjasama semua pihak, owhh jangan harap kita bisa bebas dari penjajah digital. Terutama kita anak muda yang masih belum banyak beban, ayaoo kita bebaskan negara kita ini dari penjajah digital dengan terus menciptakan konten digital yang bermutu dan berkualitas kelas dunia. Jangan mulu make buatan luar, udah saatnya kita buat toh pemerintah juga mulai keliatan perannya di industri digital.
Jaman dulu pemuda-pemudi usia belasan tahun sudah megang senapan kalaupun gak kebagian mereka akan megang bambu runcing dan berteriak merdeka, sudah saatnya mulai hari ini kita juga bertindak serupa tapi beda senjata, otak dan kreatifitaslah senjata kita hari ini dan kedepan. Kita adalah raja di istana sendiri.
Komentar
Posting Komentar